My Profil

SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog Economy Dan IT - Saya senang Anda berada di sini, dan Saya berharap Anda sering datang kembali. Silakan Berlama - Lama di sini dan membaca lebih lanjut tentang artikel dunia Economy, Lifestayle, Perpolitikan, Entertaiment, Dan Tutorial Bloging Maupun Kehidupan Seputar Blogers yang telah Saya sediakan.

Sekilas Tentang Saya

Nama saya M. Wahyu Arya Putra, Saya berasal Dari Sumatra Utara, Saya hanyalah Seorang Mahasiswa dan Blogger biasa, Yang terus belajar dan berusaha untuk menjadi luar biasa...

  • Lebih Lanjut Tentang Saya
  • TRANSLATOR

    English French German Spain Italian DutchRussian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    Tampilkan postingan dengan label Perbankan. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Perbankan. Tampilkan semua postingan

    Kamis, 27 September 2012

    Pengaruh Kebijakan Moneter Terhadap Sektor Perbankan Di Indonesia

    Pendahuluan
    Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan stabilitas. Untuk mencapai tujuan itu, Bank Sentral berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali dengan baik, tercapainya kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang. Kebijakan moneter dilakukan pada instrumen yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

    1.     Kerangka Kebijakan Moneter pada Perbankan Indonesia
    Dengan ditinggalkannya sistem crawling band dan dianutnya sistem nilai tukar mengambang setelah krisis ekonomi tahun 1997/98, kerangka kebijakan moneter diarahkan pada penciptaan stabilitas harga dengan target base money (inflation targeting lite). Sejak bulan Juli 2005, kerangka kebijakan moneter disempurnakan dengan prinsip-prinsip Inflation Targeting Framework.
    Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut. Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara forward looking, artinya perubahan pendirian kebijakan moneter dilakukan melaui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan.  Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik.  Secara operasional,  pendirian kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan dapat memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan.  Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi. http://gemmaaktuaria.com/?p=145
              Pelaksanaan ITF di Indonesia mengikuti prinsip dasar bahwa ITF adalah framework, bukan rule. Dengan prinsip ini, kebijakan moneter tidak dilaksanakan secara kaku. Pelaksanaan kebijakan moneter juga mempertimbangkan sasaran-sasaran pembangunan yang lebih luas terutama  pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan prinsip full discretionary, ITF menuntut agar discretionary policy dalam pelaksanaan kebijakan moneter bersifat terbatas. Dengan prinsip dasar tersebut, Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter dengan elemen-elemen pokok :
    a.  Pertama, suku bunga (BI-rate) digunakan sebagai sasaran operasional moneter untuk menggantikan uang beredar. Hal ini didasarkan pada pertimbangan semakin melemahnya hubungan antara uang beredar dengan laju inflasi.
    b.  Kedua, kebijakan moneter diperkuat dengan strategi yang bersifat pre-emptive atau forward looking. Elemen dasar ini sekaligus merupakan tantangan besar bagi Bank Indonesia mengingat inflasi di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi yang bersifat adaptif. Kebijakan moneter perlu konsisten terhadap sasaran akhir yang akan dicapai atau menghindari time-inconsistency policy. Tanpa konsistensi yang kuat, kebijakan ke depan kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Masyarakat kembali akan menggunakan ekspektasi adaptif dan/atau memberi porsi relatif sangat kecil terhadap langkah-langkah kebijakan yang akan ditempuh ke depan kemudian melakukan optimasi dalam pengambilan keputusannya.
    Arsitektur Perbankan Indonesia (API) adalah suatu kerangka dasar dari sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan juga memberikan arah, bentuk, serta tatanan industri perbankan untuk jangka waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Arah kebijakan dari pengembangan industri perbankan di masa yang akan dating tersebut dirumuskan dalam API dan dilandasi dengan tujuan mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien agar dapat menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
    Dengan adanya kebutuhan blue print perbankan nasional dan sebagai kelanjutan dari program restrukturisasi perbankan yang sudah berjalan sejak tahun 1998, maka Bank Indonesia pada tanggal 9 Januari 2004 telah meluncurkan API sebagai suatu kerangka menyeluruh arah kebijakan pengembangan industri perbankan Indonesia ke depan.  Peluncuran API tersebut tidak terlepas pula dari upaya Pemerintah dan Bank Indonesia untuk membangun kembali perekonomian Indonesia melalui penerbitan buku putih Pemerintah sesuai dengan Inpres No. 5 Tahun 2003, dimana API menjadi salah satu program utama dalam buku putih tersebut.

    Kritikan dari keinginan untuk memiliki fundamental perbankan yang lebih kuat dan dengan memperhatikan masukan-masukan yang diperoleh dalam mengimplementasikan API selama dua tahun terakhir, maka Bank Indonesia merasa perlu untuk menyempurnakan program-program kegiatan yang tercantum dalam API.  Penyempurnaan program-program kegiatan API tersebut tidak terlepas pula dari perkembangan-perkembangan yang terjadi pada perekonomian nasional maupun internasional.  Penyempurnaan terhadap program-program API tersebut antara lain mencakup strategi-strategi yang lebih spesifik mengenai pengembangan perbankan syariah, BPR, dan UMKM ke depan sehingga API diharapkan memiliki program kegiatan yang lebih lengkap dan komprehensif yang mencakup sistem perbankan secara menyeluruh terkait Bank umum dan BPR, baik konvensional maupun syariah, serta  pengembangan UMKM.

    read more

    Selasa, 03 Juli 2012

    Pengaruh Kebijakan Moneter Terhadap Sektor Perbankan di Indonesia

    PENGARUH KEBIJAKAN MONETER
    TERHADAP
    SEKTOR PERBANKAN DI INDONESIA


    Pendahuluan
    Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan stabilitas. Untuk mencapai tujuan itu, Bank Sentral berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali dengan baik, tercapainya kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang. Kebijakan moneter dilakukan pada instrumen yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang kepada bank sentral apabila mengalami kesulitan likuiditas.

    1.     Kerangka Kebijakan Moneter pada Perbankan Indonesia
    Dengan ditinggalkannya sistem crawling band dan dianutnya sistem nilai tukar mengambang setelah krisis ekonomi tahun 1997/98, kerangka kebijakan moneter diarahkan pada penciptaan stabilitas harga dengan target base money (inflation targeting lite). Sejak bulan Juli 2005, kerangka kebijakan moneter disempurnakan dengan prinsip-prinsip Inflation Targeting Framework.
    Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut. Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara forward looking, artinya perubahan pendirian kebijakan moneter dilakukan melaui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan.  Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik.  Secara operasional,  pendirian kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan dapat memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan.  Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi. http://gemmaaktuaria.com/?p=145
              Pelaksanaan ITF di Indonesia mengikuti prinsip dasar bahwa ITF adalah framework, bukan rule. Dengan prinsip ini, kebijakan moneter tidak dilaksanakan secara kaku. Pelaksanaan kebijakan moneter juga mempertimbangkan sasaran-sasaran pembangunan yang lebih luas terutama  pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan prinsip full discretionary, ITF menuntut agar discretionary policy dalam pelaksanaan kebijakan moneter bersifat terbatas. Dengan prinsip dasar tersebut, Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter dengan elemen-elemen pokok :
    a.  Pertama, suku bunga (BI-rate) digunakan sebagai sasaran operasional moneter untuk menggantikan uang beredar. Hal ini didasarkan pada pertimbangan semakin melemahnya hubungan antara uang beredar dengan laju inflasi.
    b.  Kedua, kebijakan moneter diperkuat dengan strategi yang bersifat pre-emptive atau forward looking. Elemen dasar ini sekaligus merupakan tantangan besar bagi Bank Indonesia mengingat inflasi di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi yang bersifat adaptif. Kebijakan moneter perlu konsisten terhadap sasaran akhir yang akan dicapai atau menghindari time-inconsistency policy. Tanpa konsistensi yang kuat, kebijakan ke depan kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Masyarakat kembali akan menggunakan ekspektasi adaptif dan/atau memberi porsi relatif sangat kecil terhadap langkah-langkah kebijakan yang akan ditempuh ke depan kemudian melakukan optimasi dalam pengambilan keputusannya.
    Arsitektur Perbankan Indonesia (API) adalah suatu kerangka dasar dari sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan juga memberikan arah, bentuk, serta tatanan industri perbankan untuk jangka waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Arah kebijakan dari pengembangan industri perbankan di masa yang akan dating tersebut dirumuskan dalam API dan dilandasi dengan tujuan mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien agar dapat menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
    Dengan adanya kebutuhan blue print perbankan nasional dan sebagai kelanjutan dari program restrukturisasi perbankan yang sudah berjalan sejak tahun 1998, maka Bank Indonesia pada tanggal 9 Januari 2004 telah meluncurkan API sebagai suatu kerangka menyeluruh arah kebijakan pengembangan industri perbankan Indonesia ke depan.  Peluncuran API tersebut tidak terlepas pula dari upaya Pemerintah dan Bank Indonesia untuk membangun kembali perekonomian Indonesia melalui penerbitan buku putih Pemerintah sesuai dengan Inpres No. 5 Tahun 2003, dimana API menjadi salah satu program utama dalam buku putih tersebut.

    Kritikan dari keinginan untuk memiliki fundamental perbankan yang lebih kuat dan dengan memperhatikan masukan-masukan yang diperoleh dalam mengimplementasikan API selama dua tahun terakhir, maka Bank Indonesia merasa perlu untuk menyempurnakan program-program kegiatan yang tercantum dalam API.  Penyempurnaan program-program kegiatan API tersebut tidak terlepas pula dari perkembangan-perkembangan yang terjadi pada perekonomian nasional maupun internasional.  Penyempurnaan terhadap program-program API tersebut antara lain mencakup strategi-strategi yang lebih spesifik mengenai pengembangan perbankan syariah, BPR, dan UMKM ke depan sehingga API diharapkan memiliki program kegiatan yang lebih lengkap dan komprehensif yang mencakup sistem perbankan secara menyeluruh terkait Bank umum dan BPR, baik konvensional maupun syariah, serta  pengembangan UMKM.

    read more

    Kamis, 14 Juni 2012

    Pertimbangan Merger pada Perbankan

         DEFINISI MERGER 
    Merger, konsolidasi, akuisisi adalah hal yang sangat umum dilakukan agar perusahaan dapat memenangkan sebuah persaingan, serta terus tumbuh dan berkembang.Merger merupakan salah satu pilihan terbaik untuk memperkuat fondasi bisnis, jika merger tersebut dapat memberikan sinergi. Sutan Remy Syahdeini dalam makalah berjudul ³Merger,Konsolidasi dan Akuisisi Bank´ memberikan definisi merger atau penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua Bank atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu Bank dan melikuidasi Bank-bank lainnya.

    MOTIVASI MERGER 
     Joseph F. Sinkey (1983), menjelaskan motivasi yang mendorong bank untuk melakukan merger, antara lain:
    1. Untuk mendapatkan kesempatan beroperasi dalam skala usaha yang hemat,
    2.  Guna meningkatkan pangsa pasar,
    3. Menghilangkan tidak efisien melalui operasional dan pengendalian finansial yang lebih baik,
    4. Kesempatan menggabungkan sumber daya ataupun pasar yang dimiliki masing-masing Bank. Selain itu masih terdapat beberapa faktor yang mendorong motivasi untuk merger, seperti: upaya diversifikasi, menurunkan biaya dana, dan menaikkan harga saham secara emosi (bootstrapping of earning per share) karena adanya pengumuman akan merger bagi Bank publik.

           SYARAT MERGER 
    Hazel J.Johnson (1995) menyatakan, prasyarat yang harus dianalisis terlebih dahulu dari kedua Bank yang akan melakukan merger adalah:
    •  Kondisi keuangan masing-masing Bank, merger sesama bank sehat atau karena collapse
    • Kecukupan modal
    • Manajemen, baik sebelum atau sesudah merger
    • Apakah merger dapat memberi manfaat bagi pengguna jasa Bank tersebut Johnson lebih lanjut menyatakan setiap lembaga yang akan melakukan merger, pada umumnya mempunyai beberapa isu penting yang relevan untuk dianalisis sebelum merger dilakukan, antara lain:
    a.       Kapan waktu yang tepat untuk melakukan merger?
    b.      Bagaimana mengidentifikasi kecocokan pasangan (partner) untuk merger?
    c.       Bagaimana mengkomunikasikan dengan baik atas rencana merger ini kepada seluruh pihak yang berkepentingan agar niat merger mempunyai dampak yang positif di pasar?
    d.      Bagaimana melakukan cara, yang akan dilakukan untuk konsolidasi diantara Bank yang merger?


            DASAR PEMIKIRAN DIBALIK MERGER 
    A.   Pertimbangan Pajak 
    Pertimbangan pajak telah mendorong pula terjadinya sejumlah merger. Sebagai contoh, perusahaan yang menguntungkan dan berada di rentang pajak tertinggi dapat mengakuisisisebuah perusahaan yang memiliki akumulasi kerugian pajak dalam jumlah besar. Kerugiansecara pajak ini selanjutnya dapat langsung diubah menjadi penghematan pajak daripadadibawa ke tahun berikutnya dan digunakan di maa mendatang. Jika perusahaan mengalamikekurangan peluang investasi internal jika dibandingkan dengan arus kas bebas yang tersedia,maka perusahaan dapat (membayarkan dividen tambahan, (2) berinvestasi pada sekuritas, (3)membeli kembali sahamnya, atau (4) membeli perusahaan lain.
    B.   Pembelian Aktiva di Bawah Biaya Penggantinya
    Terkadang perusahaan akan dipandang sebagai kandidat akuisisi karena biaya penggantianaktivanya jauh lebih tinggi daripada nilai pasarnya. Sebagai contoh, di awal tahun 1980-an, perusahaan minyak dapat membeli cadangan dengan harga lebih murah melalui pembelian perusahaan minyak lainnya daripada melakukan pengeboran eksplorasi.
    C.   Diversifikasi
    Para manajer sering kali menyebutkan diversifikasi sebagai salah satu alasan dari merger.Mereka berpendapat bahwa diversifikasi akan membantu menstabilisasi keuntungan perusahaan dan akibatnya memberikan keuntungan bagi para pemiliknya. Stabilisasikeuntungan sudah pasti merupakan hal yang menguntungkan bagi para karyawan, pemasok dan pelanggan, namun dari sudut pandang pemegang saham, stabilisasi merupakan nilai yangkurang pasti.

    D.   Insentif Pribadi Manajer
    Ekonom keuangan suka berpendapat bahwa keputusan bisnis hanya didasarkan atas pertimbangan ekonomi saja, khususnya dalam hal memaksimalkan nilai sebuah perusahaan. Namun, banyak keputusan bisnis sebetulnya lebih didasarkan pada motivasi pribadi manajer daripada pada analisis ekonomi.Petimbangan pribadi akan dapat menghalangi sekaligus juga dapat memotivasi merger.Setelah sebagian besar pengambilalihan, sebagian manajer dari perusahaan yang diakusisikehilangan pekerjaan mereka, atau paling tidak otonomi yang mereka miliki. Karenanya, paramanajer yang memiliki kurang dari 51% saham perusahaan mereka mencoba mencarai carayang akan memperkecil peluang erjadinya pengambilalihan. Merger defensif seperti itusangat sukar untuk dipertahankan berdasarkan alasan ekonomi.
    E.   Nilai Residu
    Perusahaan dapat dinilai dari nilai bukunya, nilai ekonominya, maupun nilai penggantinya.Baru-baru ini, para spesialis pengambilalihan perusahaan telah mulai mengakui nilai residu sebagai salah satu basis lain untuk melakukan valuasi.

         JENIS MERGER 
    Terdapat empat jenis merger:
    1. Merger horisontal, terjadi ketika sebuah perusahaan bergabung dengan perusahaanlain di dalam lini bisnis yang sama.
    2. Merger vertikal, berupa akuisisi sebuah perusahaan dengan salah satu pemasok atau pelanggannya.
    3. Merger kongenerik akan melibatkan perusahaan-perusahaan yang saling berhubungantetapi bukan merupakan produsen dari sebuah produk yang sama atau perusahaanyang memiliki hubungan pemasok-produsen.
    4. Merger konglomerat, terjadi ketika perusahaan-perusahaan yang tidak saling berhubungan bergabung.

          REGULASI MERGER 
                Sebelum pertengahan 1960-an, akuisisi secara bersahabat pada umumnya terjadi dalam bentuk merger melalui pertukaran saham sederhana, dan perebutan mandat adalah senjatautama yang digunakan dalam perang atas pengendalian secara paksa. Namun, pertengahantahun 1960-an para penjarah perusahaan mulkai beroperasi dengan cara berbeda. Pertama,menjalani perebutan mandat akan membutuhkan waktu yang lama²para penjarah tersebutharus terlebih dahulu meminta daftar pemegang saham perusahaan sasaran, ditolak, dankemudian berusaha mendapatkan surat perintah pengadilan yang memaksa menajemenmenyerahkan daftar tersebut.Kemudian para penjarah mulai berpikir bahwa jika kita membawa keputusan langsungkepada sasaran dengan cepat, sebelum manajemen sempat mengambil tindakan pencegahan,maka hal tersebut tentu akan meningkatkan peluang keberhasilan. Hal tersebut kemudianmenyebabkan penjarah berpaling dari perebutan mandat ke pengajuan penawaran, yangmemilki waktu respon jauh lebih singkat.Hal ini tidak adil bagi perusahaan sasaran sehingga akhirnya Kongres mengeluarkan Undang -undang Williams (Williams Act) pada tahun 1968. Peraturan ini memiliki dua tujuan:
           1)   mengatur cara perusahaan pengakuisisi dapat menstrukturisasi pengajuan penawaran 
         2)   memaksa perusahaan pengakuisisi mengunkapkan lebih banyak informasi tentang penwaranyang diberikan.

          ANALISIS MERGER 
    Secara teori, analisis merger sebenarnya cukup sederhana. Peusahaan pengakuisisi hanya perlu melakukan suatu analisis untuk menilai perusahaan sasaran dan kemudian menentukan apakah perusahaan sasaran dapat dibeli pada nilai tersebut, atau, yang lebih disukai lagi, lebih rendah dari estimasi nilai tersebut

    read more

    Minggu, 29 April 2012

    Perkembangan Perbankan Di Indonesia Sebelum Dan Sesudah Deregulasi


    Kondisi dunia perbankan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini selain disebabkan oleh perkembangan internal dunia perbankan, juga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan di luar dunia perbankan, seperti sektor riil dalam perekonomian, politik, hukum dan sosial.
    Perkembangan faktor- faktor internal dan eksternal perbankan tersebut menyebabkan kondisi perbankan di Indonesia secara umum dapat dikelompokkan dalam empat periode. Masing – masing periode memiliki ciri – ciri khusus yang tidak dapat di samakan dengan periode lainnya.
    Serangkaian paket – paket deregulasi di sector riil dan moneter yang di mulai sejak tahun 1980- an serta terjadinya krisis ekonomi di Indonesia sejak akhir tahun 1990-an adalah dua peristiwa utama yang telah menyebabkan munculnya empat periode kondisi perbankan di Indonesia sampai dengan tahun 2000.
    Keempat  periode ini adalah
    o   Kondisi perbankan di Indonesia sebelum serangkaian paket- paket deregulasi di sector rill dan moneter yang di mulai sejak tahun 1980-an.
    o   Kondisi perbankan di Indonesia setelah munculnya deregulasi sampai dengan masa sebelum terjadinya krisis ekonomi pada akhir tahun 1990-an.
    o   Kondisi perbankan di Indonesia pada masa krisis ekonomi sejak akhir tahun 1990-an, dan
    o   Kondisi perbankan di Indonesia pada saat sekarang ini.

    A.          Kondisi Sebelum Deregulasi
    Perbankan pada masa ini sangat di pengaruhi oleh berbagai kepentingan ekonomi dan politik dari penguasa , yang dalam hal ini adalah pemerintah. Pada masa colonial kegiatan perbankan di wilayah Hindia- Belanda ini terutama di arahkan untuk melayani kegiatan usaha dari perusahaan – perusahaan besar milik kolonial di wilayah jajahannya serta membantu administrasi anggaran milik pemerintah. Dengan demikian fungsi utama perbankan pada masa penjajahan adalah :
    ·         Memobilisasikan dana dari investor untuk membiayai kebutuhan dana investasi dan modal kerja perusahaan – perusahaan besar milik kolonial
    ·         Memberikan jasa- jasa keuangan kepada perusahaan – perusahaan besar milik kolonial, seperti giro, garansi bank, pemindahan dana dan lain- lain
    ·         Membantu pemindahan dana jasa modal dari wilayah kolonial  ke Negara penjajah
    ·         Sebagai tempat sementara dari dana hasil pemungutan pajak, baik pajak dari perusahaan – perusahaan maupun dari masyarakat pribumi, untuk kemudian dikirim ke negara penjajah.
    ·         Mengadministrasikan anggaran pemerintah untuk membiayai kegiatan pemerintah kaolonial.
        Fungsi utama perbnkan pada masa setelah kemerdekaan sampai dengan sebelum adanya deregulasi tidak banyak mengalami perubahan. Orientasi kegiatan perbankan masih banyak dipengaruhi oleh pola yang diterapkan pada masa penjajahan. Dengan demikian fungsi utamanya adalah:
    ·         Memobilisasikan dana dari investor untuk membiayai kebutuhan dana investasi dan modal kerja perusahaan – perusahaan besar milik pemerintah dan swasta.
    ·         Memberikan jasa- jasa keuangan kepada perusahaan- perusahaan besar
    ·         Mengadministrasikan anggaran pemerintah untuk membiayai kegiatan pemerintah
    ·         Menyalurkan dana anggaran untuk membiayai program dan proyek pada sektor- sektor yang ingin di kembangkan oleh pemerintah
    Bank – bank yang ada tidak secara tegas di arahkan untuk memobilisasikan dana seluas- luasnya dari seluruh anggota masyarakat, dan juga tidak diarahkan untuk mengembangkan perekonomian rakyat seluas- luasnya. Kebijakan yang terkait dengan sektor perbankan hanya ditekanakan pada kegitan usaha- usaha besar dan program- program pemerintah. Selain karena pola kebijakan otoritas moneter pada waktu itu yang belum mementingkan mobilisasi dari dana masyarakat luas, keadaan diatas juga disebabkan oleh belum adanya perangkat peraturan dan perundang- undangan yang secara khusus mengatur dunia perbankan. Secara lebih rinci keadaan perbankan saat itu adalah sebagai berikut:
    a.       Tidak adanya peraturan perundang- undangan yang mengatur secara jelas tentang perbankan di Indonesia
    b.      Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) pada bank- bank tertentu
    c.       Bank banyak menanggung program-program pemerintah
    d.      Instrumen pasar uang yang terbatas
    e.       Jumlah Bank Swasta yang relatif sedikit
    f.       Sulitnya Pendirian bank baru
    g.      Persaingan antar bank yang tidak ketat
    h.      Posisi tawar- menawar bank yang relative lebih kuat daripada nasabah
    i.        Prosedur berhubungan dengan bank rumit
    j.        Bank bukan merupakan alternative utama bagi masyarakat luas untuk menyimpan dan memimjam dana
    k.      Mobilisasi dana lewat perbankan yang sangat rendah

    B.     Kondisi Sesudah Deregulasi
    Tingkat inflasi yang tinggi serta kondisi ekonomi makro secara umum yang tidak bagus terjadi bersamaan dengan kondisi perbankan yang tidak dapat memobilisasi dana dengan baik. Fenomena yang terjadi pada masa sebelum deregulasi tersebut seolah- olah menjadi suatu lingkaran yang tidak ada ujung pangkalnya serta saling mempengaruhi.
    Untuk mengatasi situasi ynag serba tidak mengunungkan ini cara yang ditempuh pemerintah pada waktu itu adalah dengan melakukan serangkaian kebijakan berupa deregulasi di sektor rill dan moneter. Pada tahap awal deregulasi lebih cepat dampaknya pada sektor moneter melalui serangkaian perubahan di dunia perbankan. Meskipun istilah yang digunakan adalah “deegulasi” tidak berarti bahwa perubahan yang dilakukan sepenuhnya berupa pengurangan pembatasan atau pengaturan di dunia perbankan. Perubahan yang terjadi juga termasuk peningkatan pengaturan pada bidang- bidang tertentu, sehingga deregulasi ini lebih tepat diartikan sebagai perubahan- perubahan  yang dimotori oleh otoritas moneter untuk meningkatkan kinerja dunia perbankan, dan pada akhinya juga diharapkan akan meningkatkan kinerja sektor rill.
    Kebijakan deregulasi yang telah dilakukan dan terkait dengan dunia perbankan, antara lain adalah:
    a.       Paket 1 Juni1983 yang berisi tentang
    1.      Penghapusan pagu kredit dan pembatasan aktiva lain sebagai instrumen pengendali Jumlah Uang Beredar (JUB).
    2.      Pengurangan KLBI kecuali untuk sektor- sektor tertentu.
    3.      Pemberian kebebasan bank untuk menetapkan suku bunga simpanan dan pinjaman kecuali untuk sektor- sektor tertentu.
    b.      Bank Indonesia sejak 1984 mengeluarkan SBI
    c.       Bank Indonesia sejak 1985 mengeluarkan ketentuan perdagangan SBPU dan fasilitas diskonto oleh BI.
    d.      Paket 27 Oktober 1988 yang berisi tentang:
    1.      Pengerahan dana masyarakat, yang meliputi
    ·         Kemudahan pembukaan kantor bank
    -    Bank pemerintah, bank pembangunan daerah, bank swasta nasional dan bank koperasi dapat membuka cabang di seluruh wilayah Indonesia.
    -    Pembukaan kantor cabang pembantu cukup dilakukan denganmemberi tahu Bank Indonesia
    ·   Kejelasan pendirian bank swasta
    -    Modal di setor bank umum minimal 10 miliar
    -    Modal di setor BPR minimal Rp 50 juta
    -    BPR dapat ditingkatkan menjadi bank umum
    -    BPR dapat menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk giro, deposito, dan tabungan.
    -    Pembukaan kemungkinan untuk mendirikan bank campuran antara bank nasional dengan bank asing
    ·         Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank bisa menerbitkan sertifikat deposito tanpa memerlukan izin
    ·         Semua bank dapat memberikan layanan Tabanas dan tabungan lainnya.
    2.      Efisiensi Lembaga Keuangan yang meliputi
    ·         BUMN dan BUMD bukan bank dapat menempatkan sampai dengan 50 % dananya pada bank nasional manapun.
    ·         Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) bagi bank dan lembaga keuangan bukan bank
    3.      Pengendalian Kebijakan moneter yang meliputi
    ·         Likuiditas wajib minimum perbankan dan lembaga keuangan bukan bank diturunkan dari 15 % menjadi 2 % dari jumlh dana pihak ketiga
    ·         SBI dan SBPU yng semula hanya berjangka waktu 7 hari, sekarang di tambah dengan berjangka waktu sampai dengan 6 bulan
    ·         Batas maksimum pinjaman antarbank ditiadakan
    4.      Pengembangan pasar modal, yang meliputi
    ·         Bunga deposito berjangka dan sertifikat deposito dikenakan  pajak penghasilan sebesar 15 % agar dunia perbankan mendapat perlakuan yang sama dengan pasar modal
    ·         Penangguhan pengenaan pajak penghasilan terhadap bunga tabungan
    ·         Perluasan modal bank dan lembaga keuangan bukan bank dapat dilakukan dengan prnjualan saham baru melalui pasar modal di samping peningktan penyertaan oleh pemegang saham.
    e.       Paket 20 Desember 1988 yang berisi tentang :
    1.      Aturan peyelenggaraan bursa efek oleh swasta
    2.      Alternatif sumber pembiyaan berupa sewa guna usaha, anjak piutang, modal ventura,perdagangan surat berharga, kartu kredit, dan pembiayaan konsumen
    3.      Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank dapat melakukan kegiatan perdagangan surat berharga, anjak piutang , kartu kredit, dan pembiayaan konsumen.
    4.      Kesempatan pendirian perusahaan asuransi kerugian, asuransi jiwa, reasuransi, broker asuransi, adjuster asuransi, dan aktuaria.
    f.       Paket 25 Maret 1989 yang berisi tentang :
    1.      Penyempurnaan paket sebelumnya
    2.      Bank  dan Lembaga Keuangan Bukan Bank dapat memiliki net open position maksimum sebesar 25 % dari modal sendiri.
    g.      Paket 29 Januari 1990 yang berisi tentang penyempurnaan program perkreditan kepada usaha kecil agar dilakukan secara luas oleh semua bank.
    h.      Paket 28 Februari 1991 yang berisi tentang penyempurnaan paket sebelumnya menuju penyelenggaraan lembaga keuangan dengan prinsip kehati- hatian, sehingga dapat tetap mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan
    i.        UU No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
    j.        Paket 29 Mei 1993 yang berisi tentang penyempurnaan aturan kesehatan bank meliputi:
    1.      Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio)
    2.      Batas maksimum pemberian kredit (BMPK)
    3.      Kredit Usaha Kecil (KUK)
    4.      Pembentukan cadangan piutang
    5.      Rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio)
                   Serangkaian kebijakan di atas telah mengakibaykan banyak perubahan dalam perbankan di Indonesia. Ciri-ciri kondisi perbankan pada masa sebelum deregulasi sudah tidak dapat ditemui lagi pada masa setelah deregulasi, sehingga pada masa setelah deregulasi ini perbankan di Indonesia mempunyai ciri- ciri sebagian berikut:
    a.             Peraturan yang memberikan kepastian hukum
    b.            Jumlah bank swasta bertambah banyak
    c.             Tingkat persaingan bank semakin kuat
    d.            Sertifikat Bank Indonesia dan Surat Berharga Pasar Uang
    e.             Kepercayaan masyarakat terhadap bank yang meningkat
    f.             Monilisasi dana melalui sektor perbankan yang semakin besar

    1. Kondisi Saat Krisis Ekonomi Mulai Akhir Tahun 1990-an
    Deregulasi dan penerapan kebijakan- kebijakan lain yang terkait dengan sektor moneter dan rill telah menyebabkan sektor perbankan lebih mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kinerja ekonomi makro di Indonesia. Mobilisasi dana melalui perbankan menjadi lebih besar dan perbankan menjadi lebih besar peran sertanya dalam menunjang kegiatan di sektor  rill melalui peningkatan produksi barang dan jasa.
    Deregulasi di atas ternyata kurang diimbangi dengan manajemen resiko perbankan yang baik. Perkembangan perbankan yang cukup lama untuk dapat mengangkat Indomesia menjadi Negara dengan tingkat kesejahteraan yang sama dengan negara- negara lain di Asia Tenggara.
    Perkembangan ini dalam waktu yang sangat singkat menjadi terhenti dan bahkan mengalami kemunduran total akibat adanya krisis ekonomi yang terjadi pada akhir tahun 1990-an. Krisis ekonomi yang pada awalnya hanya dipandang sebagai krisis moneter ini banyak menyebabkan perubahan dalam kondisi perbankan di Indonesia, sehingga kondisinya saat masa itu adalah sebagai berikut:
    a.       Tingkat kepercayaan masyarakat Dalam dan Luar Negri terhadap perbankan di Indonesia menurun drastic
    b.      Sebagian besar bank dalam keadaan tidak sehat
    c.       Adanya Spread negative
    d.      Munculnya penggunaan peraturan perundangan yang baru
    e.       Jumlah bank menurun


    1. Kondisi Terakhir
    Tiga hal penting menandai kondisi terakhir sektor perbankan di Indonesia. Ketiga hal tersebut adalah:
    a.    Selesainya peyusunan Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Munculnya API ini dipicu oleh adanya krisis perbankan dan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia mulai tahun 1997. Salah satu landasan penting penyusunan API ini adalah usaha Bank Indonesia untuk menerapkan 25 Barel Core Princioles.
    b.   Serangkaian rencana dan komitmen pemerintah, DPR, dan Bank Indonesia untuk membentuk atau menyusun:
    -          Lembaga penjamin simpanan
    -          Lembaga Pengawas perbankan yang independent
    -          Otoritas Jasa keuangan
    c.   Kinerja perbankan yang lebih menunjukkan kondisi masa peralihan atau awal masa pemulihan dari krisis ekonomi ke arah kondisi perbankan yang lebih sesuai dengan praktik- praktik perbankan yang lebih baik. Praktik perbankan yang lebih baik ini antara lain mengrah kepada:
    1.   Manajemen Pengelolaan resiko yang baik.
    2.   Struktur perbankan nasional yang lebih baik.
    3.   Penerapan prinsip kehati- hatian (prudential banking) yang konsisten
    4.   Penyaluran dana masyarakat kea rah yang lebih mencerminkan bank sebagai perantara keuangan (financial intermediary) dengan tetap berlandaskan prinsip kehati- hatian.


    DAFTAR PUSTAKA
    Bank dan Lembaga Keuangan Lain,Totok Budisantoso-Sigit Triandaru,Salemba Empat, Yogyakarta.

    read more

    Sabtu, 28 April 2012

    Daftar Nama-Nama Perusahaan Publik (Emiten) Di Bursa Efek Indonesia


    Berikut di bawah ini Daftar saham Indonesia / perusahaan publik /perusahaan terbuka / perusahaan tbk / emiten /daftar saham / kode saham di Bursa Efek Indonesia (Indonesia Stock Exchange) / Bursa Saham Indonesia.

    Sumber : KSEI, BEI
    Catatan : Jumlah emiten 442 (BEI). Daftar dibawah mecapai 451 (KSEI) karena ada  emiten yang memperdagangkan sahamnya lebih dari satu jenis saham (saham biasa dan saham preferen) sehingga untuk emiten tersebut memiliki 2 (dua) kode saham.

    Perusahaan efek yang terdaftar diperbaharui per 15 Maret 2012 :

    Saham
    No.
    Kode
    Deskripsi
    BAE
    Nominal

    1
    ASTRA AGRO LESTARI Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    2
    MAHAKA MEDIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    3
    ASURANSI BINA DANA ARTA Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    500

    4
    ABM INVESTAMA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    5
    ACE HARDWARE INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    6
    AKASHA WIRA INTERNATIONAL Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    1000

    7
    ADHI KARYA (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    8
    ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    9
    POLYCHEM INDONESIA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    10
    ADARO ENERGY Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    11
    BANK AGRONIAGA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    12
    ASURANSI HARTA AMAN PRATAMA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    50

    13
    AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    14
    TIGA PILAR SEJAHTERA FOOD Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    15
    ALAM KARYA UNGGUL Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    16
    ARGHA KARYA PRIMA INDUSTRY Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    17
    AKR CORPORINDO Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    18
    MAJAPAHIT SECURITIES Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    19
    ALKINDO NARATAMA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    20
    ALAKASA INDUSTRINDO Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    1000

    21
    ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    22
    ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    23
    ASAHIMAS FLAT GLASS Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    24
    SUMBER ALFARIA TRIJAYA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    25
    ANEKA TAMBANG Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    26
    PACIFIC STRATEGIC FINANCIAL Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    400

    27
    ASIAPLAST INDUSTRIES Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    28
    AGUNG PODOMORO LAND Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    29
    ARPENI PRATAMA OCEAN LINE Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    30
    ARGO PANTES Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    31
    ATLAS RESOURCES Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    200

    32
    ARWANA CITRAMULIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    50

    33
    ARTHAVEST Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    200

    34
    RATU PRABU ENERGI Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    500

    35
    ASURANSI BINTANG Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    500

    36
    ASURANSI DAYIN MITRA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    37
    ASTRA GRAPHIA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    38
    ASIA NATURAL RESOURCES Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    300

    39
    ASTRA INTERNATIONAL Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    40
    ASURANSI JASA TANIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    200

    41
    ALAM SUTERA REALTY Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    42
    ASURANSI RAMAYANA Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    500

    43
    ATPK RESOURCES Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    200

    44
    ASTRA OTOPARTS Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    45
    BANK ICB BUMIPUTERA TBK
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    46
    BANK CAPITAL INDONESIA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    47
    BANK EKONOMI RAHARJA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    48
    SARANACENTRAL BAJATAMA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    49
    BEKASI ASRI PEMULA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    50
    SEPATU BATA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    1000

    51
    BAYU BUANA Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    52
    BANK CENTRAL ASIA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    62.5

    53
    BANK BUKOPIN Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    54
    BUANA FINANCE Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    250

    55
    BANK NEGARA INDONESIA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    7500

    56
    BANK NUSANTARA PARAHYANGAN Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    57
    BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    58
    BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    59
    BHAKTI CAPITAL INDONESIA Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    60
    BANK MUTIARA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    78

    61
    BUMI CITRA PERMAI Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    62
    BANK DANAMON INDONESIA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    50000

    63
    BANK PUNDI INDONESIA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    64
    BFI FINANCE INDONESIA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    65
    BHAKTI INVESTAMA Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    66
    PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    67
    BENAKAT PETROLEUM ENERGY Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    68
    BHUWANATALA INDAH PERMAI Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    69
    BISI INTERNATIONAL Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    70
    BANK JABAR BANTEN Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    71
    BUKIT DARMO PROPERTY Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    100

    72
    SENTUL CITY Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    2000

    73
    BANK QNB KESAWAN Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    250

    74
    BERLIAN LAJU TANKER Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    62.5

    75
    BANK MANDIRI ( PERSERO ) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    76
    BINTANG MITRA SEMESTARAYA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    77
    GLOBAL MEDIACOM Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    78
    BANK BUMI ARTA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    79
    BAKRIE AND BROTHERS Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    5000

    80
    BANK CIMB NIAGA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    5000

    81
    BANK INTERNASIONAL INDONESIA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    900

    82
    BANK PERMATA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    12500

    83
    BORNEO LUMBUNG ENERGI DAN METAL Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    84
    BATAVIA PROSPERINDO FINANCE Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    85
    INDO KORDSA Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    86
    BERAU COAL ENERGY Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    87
    BUMI RESOURCES MINERALS Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    625

    88
    BERLINA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    250

    89
    BARITO PACIFIC Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    90
    BUMI SERPONG DAMAI Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    91
    BANK SINAR MAS Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    92
    BANK OF INDIA INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    200

    93
    BUMI TEKNOKULTURA UNGGUL Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    94
    BAKRIE TELECOM Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    95
    BETONJAYA MANUNGGAL Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    96
    BANK TABUNGAN PENSIUNAN NASIONAL Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    20

    97
    BUDI ACID JAYA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    125

    98
    BUANA LISTYA TAMA Tbk, PT
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    99
    BUMI RESOURCES Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    500

    100
    BUKIT ULUWATU VILLA Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    100

    101
    BANK VICTORIA INTERNATIONAL Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    102
    BW PLANTATION Tbk.
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    103
    BAYAN RESOURCES Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    104
    CARDIG AERO SERVICES Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    105
    CAHAYA KALBAR Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    106
    CENTRIN ONLINE Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    107
    CLIPAN FINANCE INDONESIA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    250

    108
    CITA MINERAL INVESTINDO Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    109
    CITRA KEBUN RAYA AGRI Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    250

    110
    COLORPAK INDONESIA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    111
    CITRA MARGA NUSAPHALA PERSADA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    112
    CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    1000

    113
    EXPLOITASI ENERGI INDONESIA Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    2000

    114
    CENTEX Tbk SERI B COMPANY LISTING
    CNTX2 – CENTURY TEXTILE INDUSTRY Tbk, PT – FOR REGISTRAR
    1000

    115
    CENTEX Tbk SERI A PREFEREN
    CNTX2 – CENTURY TEXTILE INDUSTRY Tbk, PT – FOR REGISTRAR
    1000

    116
    COWELL DEVELOPMENT Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    117
    INDO SETU BARA RESOURCES Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    1000

    118
    CHAROEN POKPHAND INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    10

    119
    CENTRAL PROTEINAPRIMA Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    120
    CATUR SENTOSA ADIPRANA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    121
    CITRA TUBINDO Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    122
    CIPUTRA DEVELOPMENT Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    250

    123
    CIPUTRA PROPERTY Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    250

    124
    CIPUTRA SURYA Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    250

    125
    CITATAH Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    126
    DUTA ANGGADA REALTY Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    127
    DAVOMAS ABADI Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    50

    128
    DANASUPRA ERAPACIFIC Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    129
    DARMA HENWA Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    130
    DUTA GRAHA INDAH Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    131
    INTILAND DEVELOPMENT Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    132
    CENTRAL OMEGA RESOURCES Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    133
    DELTA DJAKARTA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    134
    DYVIACOM INTRABUMI Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    250

    135
    DELTA DUNIA MAKMUR Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    50

    136
    DUTA PERTIWI NUSANTARA
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    137
    DHARMA SAMUDERA FISHING INDUSTRIES Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    138
    DIAN SWASTATIKA SENTOSA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    250

    139
    DUTA PERTIWI Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    140
    DARYA – VARIA LABORATORIA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    250

    141
    EKADHARMA INTERNATIONAL Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    50

    142
    ELNUSA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    143
    BAKRIELAND DEVELOPMENT Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    144
    MEGAPOLITAN DEVELOPMENTS Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    145
    ELANG MAHKOTA TEKNOLOGI Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    200

    146
    ENERGI MEGA PERSADA Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    147
    ENSEVAL PUTERA MEGATRADING Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    50

    148
    ERAJAYA SWASEMBADA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    149
    ERATEX DJAJA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    500

    150
    SURYA ESA PERKASA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    151
    EVER SHINE TEXTILE INDUSTRY
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    152
    ETERINDO WAHANATAMA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    153
    XL Axiata Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    154
    FAST FOOD INDONESIA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    155
    FAJAR SURYA WISESA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    156
    FKS MULTI AGRO Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    157
    FORTUNE MATE INDONESIA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    158
    FORTUNE INDONESIA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    159
    TITAN KIMIA NUSANTARA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    250

    160
    SMARTFREN TELECOM Tbk, PT
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    2000

    161
    GUNAWAN DIANJAYA STEEL Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    162
    GOODYEAR INDONESIA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    1000

    163
    GEMA GRAHASARANA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    164
    GOLDEN ENERGY MINES Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    165
    GUDANG GARAM Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    166
    GARUDA INDONESIA (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    167
    GAJAH TUNGGAL Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    168
    GRAHAMAS CITRAWISATA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    800

    169
    GOWA MAKASSAR TOURISM DEVELOPMENT Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    500

    170
    Golden Retailindo Tbk, PT
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    171
    PERDANA GAPURAPRIMA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    172
    Evergreen Invesco Tbk, PT
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    173
    EQUITY DEVELOPMENT INVESTMENT Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    174
    GARDA TUJUH BUANA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    175
    GREENWOOD SEJAHTERA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    176
    GOZCO PLANTATIONS Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    177
    HD CAPITAL Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    178
    HD FINANCE Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    179
    PANASIA INDOSYNTEC Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    180
    HERO SUPERMARKET Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    181
    HEXINDO ADIPERKASA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    182
    HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    50

    183
    HANJAYA MANDALA SAMPOERNA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    184
    HOTEL MANDARINE REGENCY Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    185
    HARUM ENERGY Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    186
    INDONESIA AIR TRANSPORT Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    187
    INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    188
    ISLAND CONCEPTS INDONESIA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    56.125

    189
    INDOSIAR KARYA MEDIA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    250

    190
    CHAMPION PACIFIC INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    50

    191
    INTI AGRI RESOURCES Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    1000

    192
    INTIKERAMIK ALAMASRI INDUSTRI Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    193
    SUMI INDO KABEL Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    194
    INDOMOBIL SUKSES INTERNASIONAL Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    195
    INDOFARMA (Persero) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    196
    INDAL ALUMINIUM INDUSTRY Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    197
    AMSTELCO INDONESIA Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    198
    INTANWIJAYA INTERNASIONAL Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    199
    VALE INDONESIA Tbk
    INCO2 – INTERNATIONAL NICKEL INDONESIA Tbk (INHOUSE BAE)
    25

    200
    INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    201
    INDO-RAMA SYNTHETICS Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    202
    INDOSPRING Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    1000

    203
    TANAH LAUT Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    250

    204
    INDIKA ENERGY Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    205
    INDAH KIAT PULP AND PAPER Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    1000

    206
    BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    110.88

    207
    INDONESIAN PARADISE PROPERTY Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    208
    TOBA PULP LESTARI Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    209
    INTRACO PENTA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    50

    210
    INTER DELTA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    211
    INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    212
    INOVISI INFRACOM Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    213
    INDOPOLY SWAKARSA INDUSTRY Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    214
    INDOSAT Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    100

    215
    SUMBER ENERGI ANDALAN Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    1000

    216
    INDO TAMBANGRAYA MEGAH Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    217
    LEO INVESTMENTS Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    25

    218
    JASA ANGKASA SEMESTA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    219
    JAYA AGRA WATTIE Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    220
    JEMBO CABLE COMPANY Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    221
    JAKARTA INTERNATIONAL HOTELS AND DEVELOPMENT Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    222
    JAYA KONSTRUKSI MANGGALA PRATAMA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    223
    JAKARTA KYOEI STEEL WORKS LTD Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    224
    JAPFA COMFEED INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    1000

    225
    JAYA PARI STEEL Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    100

    226
    JAYA REAL PROPERTY Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    227
    JASA MARGA (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    228
    JAKARTA SETIABUDI INTERNASIONAL Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    229
    JASUINDO TIGA PERKASA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    20

    230
    KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    231
    DAYAINDO RESOURCES INTERNATIONAL Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    232
    KARWELL INDONESIA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    233
    KMI Wire and Cable Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    234
    KABELINDO MURNI Tbk
    KBLM2 – REGISTRAR FOR KABELINDO MURNI TBK, PT
    1000

    235
    FIRST MEDIA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    500

    236
    KERTAS BASUKI RACHMAT INDONESIA Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    200

    237
    KEDAWUNG SETIA INDUSTRIAL Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    238
    KERAMIKA INDONESIA ASSOSIASI Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    239
    KEDAUNG INDAH CAN Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    240
    KAWASAN INDUSTRI JABABEKA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    1000

    241
    RESOURCE ALAM INDONESIA Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    50

    242
    KALBE FARMA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    50

    243
    KOKOH INTI AREBAMA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    244
    PERDANA BANGUN PUSAKA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    245
    GLOBAL LAND DEVELOPMENT Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    500

    246
    KRAKATAU STEEL Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    500

    247
    KRESNA GRAHA SEKURINDO Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    248
    LAMICITRA NUSANTARA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    125

    249
    LEYAND INTERNATIONAL Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    250
    LAGUNA CIPTA GRIYA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    251
    LION METAL WORKS Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    252
    LIMAS CENTRIC INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    253
    LANGGENG MAKMUR INDUSTRI Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    254
    LIONMESH PRIMA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    255
    LIPPO CIKARANG Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    500

    256
    LIPPO GENERAL INSURANCE Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    500

    257
    MULTI PRIMA SEJAHTERA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    500

    258
    LIPPO KARAWACI Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    100

    259
    STAR PACIFIC Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    5000

    260
    MATAHARI DEPARTMENT STORE Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    5000

    261
    LIPPO SECURITIES Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT


    262
    PP LONDON SUMATRA INDONESIA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    263
    LAUTAN LUAS Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    264
    MALINDO FEEDMILL Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    20

    265
    MAS MURNI INDONESIA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    266
    MAS MURNI INDONESIA Tbk PREFEREN
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    150

    267
    MITRA ADIPERKASA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    268
    MULTISTRADA ARAH SARANA TBK
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    140

    269
    BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    270
    MULTIBREEDER ADIRAMA INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    1000

    271
    MITRABAHTERA SEGARA SEJATI Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    272
    MARTINA BERTO Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    273
    BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    274
    MODERNLAND REALTY Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    275
    MODERN INTERNASIONAL Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    276
    MEDCO ENERGI INTERNASIONAL Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    277
    BANK MEGA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    278
    MERCK Tbk
    MERK2 – MERCK Tbk, PT – FOR REGISTRAR
    1000

    279
    NUSANTARA INFRASTRUCTURE Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    70

    280
    MANDALA MULTIFINANCE Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    281
    MULTIFILING MITRA INDONESIA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    100

    282
    MULTI INDOCITRA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    283
    MIDI UTAMA INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    284
    MITRA INTERNATIONAL RESOURCES Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    125

    285
    MITRA INVESTINDO Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    250

    286
    METROPOLITAN KENTJANA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    287
    MULTI BINTANG INDONESIA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    288
    MULIA INDUSTRINDO Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    500

    289
    MULTIPOLAR Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    2000

    290
    MEDIA NUSANTARA CITRA Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    291
    MATAHARI PUTRA PRIMA Tbk
    SHIN1 – SHARESTAR INDONESIA, PT
    500

    292
    MUSTIKA RATU Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    125

    293
    MASKAPAI REASURANSI INDONESIA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    200

    294
    METRODATA ELECTRONICS Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    50

    295
    CAPITALINC INVESTMENT Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    50000

    296
    CAPITALINC INVESTMENT Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    10000

    297
    METROPOLITAN LAND Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    298
    METRO REALTY Tbk, PT
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    250

    299
    SAMINDO RESOURCES Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT


    300
    MAYORA INDAH Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    301
    HANSON INTERNATIONAL Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    500

    302
    HANSON INTERNATIONAL Tbk – SERI B
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    125

    303
    APAC CITRA CENTERTEX Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    1000

    304
    PELAT TIMAH NUSANTARA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    305
    NIPRESS Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    1000

    306
    BANK OCBC NISP Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    125

    307
    ONIX CAPITAL Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    200

    308
    ANCORA INDONESIA RESOURCES Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    309
    INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    1000

    310
    MINNA PADI INVESTAMA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    311
    PANASIA FILAMENT INTI Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    500

    312
    PANORAMA SENTRAWISATA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    50

    313
    PANIN SEKURITAS Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    125

    314
    PAN BROTHERS Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    25

    315
    DESTINASI TIRTA NUSANTARA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    316
    PANCA GLOBAL SECURITIES Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    317
    PERUSAHAAN GAS NEGARA (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    100

    318
    PEMBANGUNAN GRAHA LESTARI INDAH Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    319
    PELANGI INDAH CANINDO Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    500

    320
    PEMBANGUNAN JAYA ANCOL Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    250

    321
    PERDANA KARYA PERKASA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    200

    322
    POLARIS INVESTAMA TBK
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    1000

    323
    PLAZA INDONESIA REALTY Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    200

    324
    BANK PAN INDONESIA Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    325
    PANIN INSURANCE Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    250

    326
    PANIN FINANCIAL Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    125

    327
    PUDJIADI AND SONS Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    328
    ASIA PACIFIC FIBERS Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    10000

    329
    POOL ADVISTA INDONESIA Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    250

    330
    PRIMA ALLOY STEEL UNIVERSAL Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    331
    J RESOURCES ASIA PASIFIK Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    332
    PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    333
    PUSAKO TARINKA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    334
    TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    335
    INDO STRAITS Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    336
    PP (PERSERO) Tbk
    BSRE1 – BSR INDONESIA PT.
    100

    337
    NEW CENTURY DEVELOPMENT Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    500

    338
    PETROSEA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    339
    PETROSEA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    50

    340
    SAT NUSAPERSADA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    150

    341
    PIONEERINDO GOURMET INTERNATIONAL Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    342
    PUDJIADI PRESTIGE Tbk
    EDI01 – EDI INDONESIA, PT
    500

    343
    PAKUWON JATI Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    344
    PANCA WIRATAMA SAKTI Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    500

    345
    PYRIDAM FARMA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    346
    RUKUN RAHARJA Tbk
    FIBU1 – FICOMINDO BUANA REGISTRAR, PT
    100

    347
    RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    50

    348
    RISTIA BINTANG MAHKOTASEJATI Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    349
    RODA VIVATEX Tbk
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    500

    350
    RELIANCE SECURITIES Tbk, PT
    BLCM1 – BLUE CHIP MULIA, PT
    100

    351
    RICKY PUTRA GLOBALINDO Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    500

    352
    RIG TENDERS INDONESIA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    100

    353
    RIMO CATUR LESTARI Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    250

    354
    KATARINA UTAMA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    355
    BENTOEL INTERNATIONAL INVESTAMA Tbk
    DAEN1 – DATINDO ENTRYCOM, PT
    50

    356
    ROYAL OAK DEVELOPMENT ASIA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    100

    357
    NIPPON INDOSARI CORPINDO Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    100

    358
    RADIANT UTAMA INTERINSCO Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    100

    359
    STEADY SAFE Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    360
    SURABAYA AGUNG INDUSTRI PULP DAN KERTAS Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    1000

    361
    DANAYASA ARTHATAMA Tbk
    SIGU1 – SINARTAMA GUNITA, PT
    500

    362
    SUPREME CABLE MANUFACTURING AND COMMERCE Tbk
    SCCO2 – SUPREME CABLE MANUFACTURING AND COMMERCE Tbk, PT – REGISTRAR
    1000

    363
    SURYA CITRA MEDIA Tbk
    RISR1 – RAYA SAHAM REGISTRA, PT
    250

    364
    SCHERING PLOUGH INDONESIA Tbk
    SIDP1 – SIRCA DATAPRO PERDANA, PT
    1000

    365
    SIDOMULYO SELARAS Tbk
    ADTR1 – ADIMITRA TRANSFERINDO, PT
    <